Thursday, 31 December 2009

Langkah Setan Menelanjangi Wanita.





Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian musli-mah. Berikut ini tahapan-tahapannya.


I. Menghilangkan Definisi Hijab;


Dalam tahap ini setan membisik-kan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.


Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.



Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?


Pertama, Membuka Bagian Tangan;


Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan mem-bisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan?


Kedua, Membuka Leher dan Dada


Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.


Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.


Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang;


Setan berbisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang,” setan memberi ide baru.


Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).


Keempat, Agak di Buka Sedikit


Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”


Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya.


Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.


II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit;


Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.


Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.


Setan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”


Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.


Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis;


Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja.” Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”


Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.


Ketiga, Terbuka Seluruh Betis


Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”


Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”


Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.



III. Serba Mini;
Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.”


Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.


Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.


Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu” Setan tak mau ambil resiko.
Penutup;

Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjeru-mus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.


Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab.


Sumber ide dan pokok pikiran: Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Tharsyah, disadur dengan bebas.

Nasihat.





Sudah menjadi kewajiban bagi tiap Muslim untuk saling nasihat-menasihati. Hal ini dikarenakan tiap Muslim adalah bersaudara dan sudah menjadi kewajiban saudaranyalah untuk mengingatkan ia manakala ia berbuat salah atau dosa.

Berapa banyak dari kita yang melihat saudara... kita sesama Muslim yang telah menjauh dan keluar dari jalan Allah SWT? Berapa dari kita yang melihat saudara kita sesama Muslim yang berbuat salah dan lalu berkatakepada kita, "itu bukan urusanmu"? Dan memberikan nasehat kepada saudara kita sesama Muslim ternyata memang urusan kita dan menjadi kewajiban bagi seorang Muslim seperti dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam?bersabda, "Agama itu nasehat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka" (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).



Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah,Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan Ibnu Umar radliyallahu ‘anhum (lihat AlIrwa’ No. 26)
Memberikan nasehat kepada orang lain memerlukan pendekatan yang khusus.Dibawah ini adalah beberapa adab yang seharusnya dilakukan oleh seorangMuslim ketika ia hendak menasehati saudaranya:


1. Mencari keredhaan Allah melalui nasehat yang kita berikan:
Sangatlah penting berniat hanya untuk mencari redha Allah SWT semata manakala seseorang hendak memberikan nasehat kepada saudaranya. Hanya dengan niat yang seperti itu yang akan mendapatkan pahala dari AllahSWT.Jika niat kita bukan untuk mencari ridha Allah SWT semata maka bersiaplah untuk menerima balasan dari Allah SWT dan juga kebencian serta kemarahan dan orang-orang termasuk juga dari orang yang diberikan nasehat.


2. Tidak mencemarkan orang yang dinasehati:
Hal ini banyak terjadi di kalangan umat Islam sekarang. Sering kalisetelah kita melihat dengan lebih jernih ternyata orang yang memberikannasehat sebenarnya ingin mencemarkan orang yang ia nasehati karenatidak suka atau dendam dengan dia. Yang demikian tidak akan cocok bagiorang yang dinasehati dan justru akan menimbulkan situasi yang lebihparah lagi tanpa ada manfaat sama sekali meskipun ia telah memberikannasehat.


3. Memberikan nasehat harus menjadi rahasia:
Bagi seseorang yang memberikan nasehat akan mendapatkan buah dariperbuatannya itu manakala ketika ia memberikan nasehat ia tidakterpengaruh oleh apa-apa yang dikatakan oleh orang lain. Orang diluarsana mungkin saja ingin mencari tahu tentang orang yang kita nasehatimelalui kita namun cukup antara kita dan yang kita nasehati saja yangtahu.Fudail Ibn Ayyadh, salah seorang ulama shalih mengatakan, "Seorang yangberiman menutupi dan memberikan nasehat dimana sebaliknya seorang yangjahat mengungkap dan membuat malu." Ibn Rajab mengomentari apa yangdikatakan oleh Fudail tersebut dengan mengatakan, "Disebut nasehatapabila itu dilakukan dengan menutupi sementara membuat malu ialahdengan mengumumkannya."


4. Berikan nasehat itu dengan cara yang baik, santun dan dewasa:
Seorang pemberi nasehat yang baik harus ramah, santun dan bersikap baikketika ia memberikan nasehat kepada orang lain karena dengan bersikapbaik boleh jadi akan mendapat tanggapan yang baik pula dari mereka yangakan kita berikan nasehat. Satu hal yang harus dipahami oleh kitaadalah perumpamaan seseorang yang mau menerima nasehat itu adalahseperti orang yang membuka pintu, dan pintu itu tidak akan terbukakecuali kita membukanya dengan kunci yang tepat. Mereka yang dinasehatibiasanya memiliki hati yang terkunci karena beberapa hal - mungkinkarena ia telah mengabaikan perintah Allah SWT atau mungkin ia telahmelakukan sesuatu yang telah dilarang oleh Allah SWT.


5. Jangan memaksakan nasehat kita kepada orang lain:
Meskipun hukumnya wajib bagi seorang Muslim memberikan nasehat kepadasaudaranya namun bukan kewajiban bagi dia untuk memaksakan saudaranyaitu agar mengikuti nasehatnya. Yang demikian itu menjadi kewenangandari penguasa Muslim atau Qadhi (hakim). Seorang pemberi nasehat yangbaik adalah mereka yang membimbing kepada kebaikan dan ia tidakmemerintah orang lain dengan paksa untuk melakukannya.


6. Memilih waktu yang terbaik ketika hendak memberikan nasihat:
Kepada mereka yang hendak memberikan nasehat sebaiknya terlebih dahulumemilih waktu yang tepat untuk menasehati seseorang, karena orangtersebut mungkin saja sedang tidak siap untuk dinasehati. Karena jikasuatu waktu kita menasehatinya sedang orang tersebut dalam keadaanmarah karena suatu hal, kecewa/sedih karena suatu hal, berduka karenakehilangan sesuatu atau mungkin kondisi lainnya boleh jadi ia tidakakan merespon apa yang kita nasehati.


7. Nasihat yang bertentangan dengan Islam tidak perlu diikuti, memberikan nasihat adalah bahagian dari Syariat Islam:
Untuk itu jika ada sesaorang memberikan nasihat yang tidak benar misal untuk meninggalkan  perintah agama atau melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama maka yang seperti itu bukan disebut dengan nasihat. Bagi yang memberikan nasihat seperti itu harus berhenti melakukannya dan bagi yang dinasihati tidak perlu mengikuti.

Saturday, 19 December 2009

Air Mata Nabi Adam.




Tahukah  saudara semenjak Nabi Adam a.s terkeluar dari syurga akibat tipu daya iblis,  beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam a.s tidak mengangkat kepalanya ke  langit kerana terlampau malu kepada Allah swt.

Beliau sujud  di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air  matanya mengalir di jurang Serantip. Dari air mata Nabi Adam a.s itu Allah swt  tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah  meminum air mata beliau. Burung itu berkata, " Sedap sungguh air  ini. "

Nabi Adam a.s  terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja  mengejeknya kerana perbuatan derhakanya kepada Allah swt.


Ini membuatkan Nabi  Adam a.s semakin hebat menangis. Akhirnya Allah swt telah menyampaikan wahyu yang  bermaksud, "Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum  yang lebih lazat dan hebat dari air mata taubatmu itu."

Apa  Yang Akan Ditanya:

Dalam sehari  ada 24 jam. ? Dalam  sejam manusia bernafas sebanyak 4,320 kali.
Dalam setiap kali bernafas Allah swt  akan tanya dua perkara semasa nafas keluar dan masuk. Pertanyaan itu ialah, Apa perbuatan yang kita lakukan semasa nafas itu keluar dan masuk?

Tiga  Cahaya Di Hari Kiamat!!!

Di hari  kiamat ada tiga cahaya yang berlainan :


* Cahaya yang pertama seperti  bintang-bintang.
* Cahaya yang kedua seperti cahaya bulan.
* Cahaya yang  ketiga seperti cahaya matahari.

Apabila  ditanya cahaya apakah ini ? Lalu dijawab :


" Cahaya yang pertama ialah cahaya  wajah-wajah manusia yang ketika di dunia, mereka akan meninggalkan pekerjaan  dan terus bersuci dan mengambil air sembahyang apabila terdengar  azan. "

" Cahaya yang kedua  ialah cahaya wajah mereka yang mengambil air sembahyang sebelum azan. "

" Cahaya yang  ketiga ialah cahaya mereka seperti matahari. Mereka didunia sudah bersiap  sedia di dalam masjid sebelum azan lagi. "


Kala  Jengking Neraka dihari  kiamat akan keluar, seekor binatang dari neraka jahanam yang bernama " Huraisy "  berasal dari anak kala jengking. Besarnya Huraisy ini dari timur hingga ke  barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi..

Malaikat  Jibril bertanya : Hai Huraisy! Engkau hendak ke mana dan siapa yang kau cari?


Huraisy pun menjawab, Aku mahu mencari  lima kategori manusia;


"Yang Pertama, orang yang meninggalkan sembahyang."


"Yang Kedua, orang yang tidak mahu keluarkan zakat."


"Yang Ketiga, orang yang derhaka kepada ibubapanya."


"Yang Keempat,  orang yang bercakap tentang dunia di dalam masjid."


"Yang Kelima, orang yang suka  minum arak."

Sampaikan  kepada sekelian muslimin/muslimat yang lain semoga menjadi pedoman hidup  hingga keakhir hayat, insyaAllah.

Tuesday, 8 December 2009

Sekadar Memanjangkan Ilmu Yang Bermanfaat...

   


  • DiAntara Ustaz Mohd Gunawan dan Fitrahi Al'Imani [Notapena] - Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 42 Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Hafizhohulloh.
     
  • Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar!!!

    Dan dari Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu ‚alaihi wa sallam bersabda: “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzi, beliau berkata: “hadits ini hasan”) Wallohu a’lam, semoga sholawat tercurah pada nabi Muhammad.


    Penjelasan:




    Dari Anas radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh ¬shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,’ Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Yang dimaksud [“Anak Adam”] pada perkataan ini adalah seorang muslim yang mengikuti risalah rosul yang diutus kepadanya. Maka orang-orang yang mengikuti risalah nabi Musa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Orang-orang yang mengikuti risalah nabi Isa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia juga termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Adapun setelah diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mendapatkan balasan dan keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadits ini adalah mereka yang mengikuti Al Musthofa (Nabi Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa sallam, beriman bahwa risalah yang beliau bawa adalah penutup risalah para nabi, mengakui kenabian dan risalah yang beliau bawa dan mengikuti petunjuk beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.


    Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: [Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Kalimat ini memiliki makna yang serupa dengan firman Alloh jalla wa ‘ala:


    قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


    “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar: 53)


    Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian segera bertaubat, berdoa kepada Alloh jalla wa ‘ala agar Ia mengampuninya serta mengharapkan ampunan-Nya, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama dia bertaubat karena “Taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya”.


    Kemudian Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: “sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku”. Kalimat ini menjelaskan bahwa doa disertai dengan harapan akan menyebabkan Alloh mengabulkan permohonan ampun. Ada sebagian orang yang berdoa pada Robb-Nya dengan harapan yang lemah dan tidak berhusnuzhon pada Robb-Nya padahal Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku maka hendaklah berprasangka pada-Ku sebagaimana dia kehendaki”. Jika seorang hamba berdoa untuk memohon ampun atas segala dosa-dosanya maka hendaknya dia berdoa untuk memohon ampun pada Alloh dengan berkeyakinan bahwa Alloh memiliki kemurahan yang sangat besar dan dia berharap bahwa Alloh akan mengampuni dosa-dosanya. Orang yang melakukan hal ini, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya.




    Maka jika seseorang telah memiliki rasa harap yang sangat besar pada Alloh dan yakin bahwa Alloh akan mengampuninya niscaya dia akan mendapatkan apa yang ia cari. Hal tersebut dikarenakan besarnya rasa harap dan prasangka yang baik pada Alloh. Banyak ibadah-ibadah hati (ibadah qolbiyyah) yang harus dilakukan oleh seorang pelaku dosa ketika memohon ampun dan bertaubat. Banyak ibadah-ibadah hati yang harus dilakukan agar perbuatan dosa diampuni sebagai karunia dan kemuliaan dari Alloh jalla wa ‘ala.




    Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “niscaya Aku akan mengampunimu”. Pengampunan (المغفرة) memiliki makna menutup bekas-bekas dosa di dunia dan akhirat. Pengampunan tidak sama dengan menerima taubat, karena pengampunan memiliki makna menutup (ستر). Mengampuni sesuatu (غفر الشيء) memiliki makna menutup sesuatu (ستره). Menutup dosa-dosa memiliki makna bahwa Alloh jalla wa ‘ala akan menutup dampak-dampak dosa di dunia dan akhirat. dampak dosa di dunia adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di dunia, sedangkan dampak dosa di akhirat adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di akhirat. Barang siapa yang memohon ampun pada Alloh jalla wa ‘ala maka dia akan diampuni oleh Alloh. Barang siapa yang meminta pada Alloh agar Ia menutupi dampak dosanya di dunia dan akhirat maka Alloh akan menutupinya. Alloh akan menutup dampak dosa-dosanya dengan tidak memberikan balasan atas dosanya di dunia dan akhirat.




    Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit]. Dosa tersebut memenuhi langit (awan yang tinggi) karena jumlahnya yang banyak dan bertumpuk-tumpuk.




    Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [kemudian engkau memohon ampun pada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Perbuatan ini adalah perbuatan seorang hamba yang bertaubat dan mencintai Robbnya dengan kecintaan yang mendalam. Karena Alloh -Yang Maha Agung, Yang Memiliki nama dan sifat yang mulia, indah dan sempurna, yang menguasai seluruh kerajaan, Dialah yang menguasai dan melindungi segala sesuatu, yang memiliki berbagai macam nama dan sifat yang agung dan mulia- akan mencintai hambanya dengan kecintaan seperti ini. Maka tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati mencintai Robbnya, merasa hina di hadapan-Nya dan mendahulukan ridho-Nya daripada ridho selain-Nya.




    Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Dalam kalimat ini terdapat dorongan untuk senantiasa memohon ampunan. Jika engkau berbuat dosa maka beristigfarlah karena sesungguhnya tidak cukup istigfar kita walaupun dilakukan sebanyak 70 kali dalam setiap hari seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dengan beristigfar dan menyesal maka Alloh akan mengampuni segala dosa.




    Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: "Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula". Jika anak Adam datang dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menjumpai Alloh dalam keadaan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya baik syirik besar, syirik kecil maupun syirik yang tersembunyi, hatinya ikhlas hanya kepada Alloh, tidak ada pada hatinya kecuali Alloh dan tidak merasa cemas kecuali hanya kepada-Nya, tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik dalam bentuk apapun pada-Nya, niscaya Alloh jalla wa ‘ala akan mengampuni seluruh dosa-dosanya.




    Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula”. Hal ini menunjukkan kebaikan dan besarnya rahmat Alloh pada para hamba-Nya.




    Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nama-nama dan sifat-Mu. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat syariat Islam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat diutusnya nabi-Mu Muhammad ‘alaihi sholatu wa sallam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah yang engkau berikan pada kami untuk mengikuti jalan para salafushalih. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah-Mu pada kami berupa ampunan untuk segala dosa, menunjukkan pada perbuatan baik, dan mengampuni segala kesalahan. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat-Mu yang Agung. Ya Alloh segala puji bagi-Mu dan engkaulah yang paling berhak untuk mendapatkan seluruh pujian.


    Sumber: http://muslim.or.id/?p=419


    Sekadar memanjangkan ilmu yang bermanfaat...DiAntara Ustaz Mohd Gunawan & Fitrahi Al'Imani

    [ Notapena. ]









Bersikap Adil, Baik dan Positif. [ Bab.5 ]




Perspektif  yang positif amatlah diperlukan untuk menjaga keharmonian diantara umat Islam dengan mereka yang bukan atau yang lahirnya sahaja sebagai orang Islam, dituntut mempunyai kewarasan yang utuh dan kesabaran yang jitu untuk mendampingi mereka yang bukan atau yang bergelar Islam.


Agama Islam telah mengajar umatnya untuk berbuat baik serta bertindak dengan adil kepada mereka yang tidak memerangi umat Islam kerana agama yang dianuti, dan tidak pula menjadikan Islam itu sebagai musuh serta bertindak kejam kepadanya, umpamanya mengusir mereka dari kampung halaman mereka sendiri dan menzalimi mereka.


Islam telah membuat ketetapan dan tidak membenarkan umatnya berbuat baik atau bertoleransi kepada mereka yang dengan sengaja memerangi dan memusuhi umat Islam disebabkan penganutan agama mereka.
Sebagaimana, firman Allah swt didalam surah al-Mumtahanah ayat 8 - 9 yang bermaksud;


" Allah swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu oleh kerana agama dan tidak pula mengusir kamu dari halamanmu dan tidak menzalimi kamu oleh agama kamu, sesungguhnya Allah swt menyukai mereka yang bersikap baik dan berlaku adil.


Allah swt hanya merestui umatNya bertindak kepada mereka yang memerangi kamu kerana menzalimi agama kamu serta mengusir kamu dari halamanmu. Barangsiapa yang menjadikan mereka itu kawan maka mereka itulah  disifatkan orang-orang yang zalim. "


Disamping menyuruh umatnya bertidak dengan seadil-adilnya kepada sesiapa pun, Islam juga mengajar umatnya menjaga suasana perdamaian hingga ketahap keharmonian dan kasih sayang kepada mereka yang bersikap baik dan adil..
Terjemahkanlah firman Allah swt untuk didengari oleh mereka, sebagaimana disebutkan didalam surah al-Taubah ayat 6 yang bermaksud;


" Jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat untuk mendengar firman Allah swt, kemudian hantarkanlah ia ketempat yang aman baginya, disebabkan mereka itu dari kaum yang tidak langsung mengetahui. "
Sebagaimana disurah al-Mumtahanah ayat 7 yang bermaksud;


" Mudah-mudahan Allah swt akan menimbulkan kasih sayang diantaramu dan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka itu. "


Petikan yang menjuruskan kepada beberapa ayat al-Quran, telah mentakrifkan dasar hidup bertoleransi umat Islam dengan umat yang beragama lain, sama ada bersangkutan berkeyakinan kepada agama mahu pun yang bersangkutan dengan sikap didalam pergaulan kemasyarakatan yang ikhlas itu sendiri.