Tuesday, 29 June 2010

Ayatul Kursi.



Thursday, 24 June 2010

Khasiat & Keutamaan Do'a Yang Ikhlas.



Do'a yang ikhlas dan memenuhi syarat akan diterima oleh Allah swt, sesuai dengan firmanNya didalam Al-Qur'an.



Ertinya :
Berdo'alah kamu padaKu [Allah] maka Aku akan menjawab do'amu. [Al-Qur'an].

Setiap orang yang berdo'a kepada Allah swt akan diberi kemuliaan.
Rasulullah s.a.w bersabda :
Tidak ada sesuatu yang lebih mulia disisi Allah swt daripada do'a seseorang. [Hadith].

Orang yang berdo'a bererti beribadat yang akan mendapatkan ganjaran.
Sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w :


Ertinya :
Berdo'a itu adalah beribadat. [Hadith].

Orang yang berdo'a akan terhindar dari kemurkaan Allah swt.

Rasulullah s.a.w bersabda :
Barang siapa yang tidak berdo'a kepada Allah swt maka Allah swt telah murka kepada orang itu. [Hadith].


Rasulullah s.a.w juga bersabda :
Ertinya :
Jangan berlemah diri kamu untuk berdo'a, kerana tidak akan binasa seseorang yang menyertai do'a. [Hadith].



Manfaatkan do'a dikala senang :
Rasulullah s.a.w bersabda :
Ertinya :
Barang siapa yang berkeinginan agar terjawab do'anya pada waktu sedang mengalami kesulitan dan bencana, maka perbanyakkanlah berdo'a dikala senang. [Hadith].

Do'a akan bermanfaat bagi seseorang saperti memiliki satu senjata :

Rasulullah s.a.w bersabda :


Ertinya :
Do'a itu adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit & bumi. [Hadith] [HR. Turmudzi].

Berdo'a adalah bererti melakukan ibadat yang istimewa :

Rasulullah s.a.w bersabda :


Ertinya :
Do'a itu adalah otaknya ibadat. [HR. Turmudzi].

Berdo'alah pula kepada Allah swt untuk kebaikan orang lain yang sedang berada ditempat yang berjauhan dari kita.

Rasulullah s.a.w bersabda :
Sesungguhnya do'a yang paling cepat untuk diterima yaitu do'anya orang ghaib [yang tidak ada dihadapan kita] [HR. Turmudzi & Abu Daud].

Cara & Syarat-Syarat Do'a Yang DiTerima :


Hendaklah memiliki rohani dan jiwa yang baik, proses ini perlu melalaui dengan menjaga kepada pemakanan [ ? ] selain dituntut untuk mendapatkan rezeki dari sumber yang halal. Jika ia dari sumber-sumber yang dikhuwatiri dan diragui tidak sahih, maka ia akan mempengaruhi do'a yang dimohon.


Terlebih dahulu harus bertaubat [nasuha] dan banyak-banyakkan beristighfar diatas keterlanjuran yang telah kita lakukan sama ada sedar atau pun tidak perlu melalui proses yang tidak boleh dikecualikan dan seterusnya menyesali dalam hati terhadap dosa yang telah dilakukan. Ini adalah proses permohonan membersihkan jiwa nurani yang dituntut dan banyakkan berbuat kebaikan dan berjanji tidak akan mengulangi dosa-dosa yang telah lampau. Allah swt Maha Pengasih Maha Tinggi untuk menerima taubat hambaNya, demikian pula dengan do'anya, insyaAllah akan dikabulkan.


Syarat yang lain dari do'a yang diterima oleh Allah swt sudah semestinya ikhlas dan murni dalam beribadat kepadaNya.
Allah swt berfirman : [ Surah Al Mu'min ayat :14 ].


Ertinya :
Maka berdo'alah [sembahlah] terhadap Allah swt dengan ikhlas untuk agamaNya, walaupun mereka yang kafir tidak menyukainya.

Pendekatannya :


Berdo'a harus mempunyai konsenterasi, tumpukam dengan mempunyai pemusatan fikiran diantara hati dan jiwa dengan gerak lisan [ mulut ] ketika sedang membaca do'a-do'a atau berdo'a. Tidak afdal melakukannya dengan tergopoh-gapah berserta fikiran yang kacau bilau atau mengelamun memikirkan sesuatu, tumpukanlah dan tujukan terus kepada Allah swt.
Didalam hadith Nabi disebutkan :
Ketahuilah sesungguhnya Allah swt tidak akan menerima do'a dari hati yang lalai.[Hadith].


Anjurkanlah do'a kepada Allah swt dengan langsung:
Rasulullah s.a.w bersabda :
Manusia yang paling bodoh adalah manusia yang bercita-cita untuk bertaubat kepada Allah swt tetapi ia masih tetap melakukan dosa.[Hadith].

Catatan ini ditulis dengan hasrat untuk memperincikan sedikit untuk sama-sama kita dapat memahami akan perkataan yang lazim disebut " DO'A " atau ' BERDO'A" sudah semestinya perlu untuk mengetahui syarat-syarat dan cara berdo'a yang dituntut.


Wallahu'alam.

Monday, 21 June 2010

Do'a [Memperkuatkan Ingatan].




Ertinya :
Allah swt yang Maha Rahman yang mengajarkan Al-Qur'an. Ia menjadikan insan dan mengajarnya ketetangan tentang matahari dan bulan dijadikanNya dengan perhitungan, bintang dan pepohonan sujud kepadaNya. Jangan engkau gerakkan lidah mu, engkau tergesa-gesa dengan itu. Kamilah yang membacanya dan mengumpulkannya. Apabila kami membacanya, ikutilah bacaan itu. Kemudian kami memberi penjelasannya. Tetapi itu adalah Al-Qur'an yang Mulia, tertulis dipapan dan terpelihara [Lauh Mahfudl].

Keterangan :

Iman Ghazali menjelaskan dalam kitabnya Khawasul Qur'an, siapa yang ingin mudah untuk menghafal ilmu pengetahuan atau untuk mudah mengingati segala yang didengar dan lihat, tuliskan ayat ini pada mangkuk yang bersih dan tuangkan air kedamnya dan minumkanlah air itu. 
Amalkanlah dengan tertib dan ikhlas insyaAllah kita akan mendapat manfaat dan keberkesanannya.

Wallahu'alam.

Salawat - Tafrijiyah.





Ertinya :

Hai Tuhan[Allah swt] kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Besar Muhammad s.a.w.
Semoga terurai dengan penuh barakahnya, dilepaskan dari segala macam kesusahan, ditunaikan segala hajat, tercapai segala keinginan dan husnul khatimah, dicurahi rahmat [yang mencurah-curah bagaikan air hujan] dengan barakah peribadinya yang mulia.
Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna semoga Engkau limpahkan atas para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan Mu...Ya Allah wahai Tuhan kami.

Keterangan :

Salawat ini disebut salawat
"Tafrijiyah
" tetapi menurut Ulama Magribi disebut salawat ' Nariah '.

Guru [mudir/mursyid] Sheikh Muhammad At-Tunisi menerangkan khasiat-khasiat salawat Tafrijiyah ini diantaranya saperti :


1. Dibaca sebelas kali setiap hari mohon dimurahkan rezeki dan diberi nama baik dalam pergaulan sesama manusia.


2. Dibaca empat puluh satu kali setiap hari sesudah selesai solat subuh [amalan secara berterusan] mohon dipermudahkan tercapainya hasil yang baik dalam setiap usaha.


Membaca salawat sama ertinya dengan berdzikir kepada Allah swt, kerana setiap bersalawat dimulai dengan menyebut nama Allah swt sambil mengemukakan beberapa permohonan kepadaNya.

Sabda Rasulullah s.a.w :
" Jemaah yang sedang duduk pada sautu majlis kemudian menyebut nama Allah swt akan dikelilingi malaikat dan selalu diliputi rahmat Tuhan "

InsyaAllah kita akan diberi ganjaran limpahan rahmat Allah swt dengan ketenteraman jiwa serta terkabul akan hajat kita.

Wallahu'alam.

Sunday, 20 June 2010

Perintah Peperangan.



Lanjutan dari coretan " Bertoleransi dan Berkerjasama Untuk Kebaikan ". 

Tuduhan-tuduhan yang mengatakan Islam adalah agama yang mengamalkan kekerasan, dimana tersebarnya agama Islam adalah melalui peperangan. Timbulnya tomahan dan tuduhan disabitkan dengan beberapa ayat Al'Quran yang diperintah untuk berperang terhadap orang-orang kafir yang tidak mahu tunduk serta mencabar kepada Islam.

Apakah tujuan sebenar dari pengistiharan perang tersebut?


Peperangan yang diizinkan oleh Allah swt bukanlah satu tindakan provokasi yang agresif , ia bertujuan untuk melindungi dan mempertahankan gerakan-gerakan kerja dakwah Islamiyah yang sering mendapat halangan serta tentangan agresif dan hebat oleh golongan-golongan anti Islam.


Selain dari mempertahankan kerja-kerja berdakwah, peperangan juga dihalalkan untuk melindungi rumah-rumah ibadah daripada golongan-golongan yang anti ketuhanan memusnahkan tempat-tempat beribadah itu.


Allah swt berfirman dalam surah [ Al-Hajj ayat: 39-40 ] yang bermaksud:

" Telah diizinkan akan peperangan bagi orang-orang yang diperangi kerana sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah swt benar-benar berkuasa menolong mereka itu "

" Dan sekiranya Allah swt tidak menolak [ keganasan ] sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah "


Didalam maksud ayat ini dengan jelas Allah swt menyebut terlebih dahulu rumah-rumah ibadat orang-orang Kristian dan Yahudi sebagai untuk memperlihatkan betapa bertanggungjawabnya Islam didalam mempertahankan tempat-tempat ibadat orang-orang bukan Islam, sifat bertanggunjawab serta adil sama seperti mempertahankan masjid Islam itu sendiri.


Selain daripada fakta yang diatas, ia juga sebagai menolak dari difitnah oleh golongan-golongan yang tertentu supaya tidak akan mejejaskan nama baik Islam dan umatnya.


Allah swt telah berfirman dalam surah [ Al-Anfal ayat:39 ] yang bermaksud:

" Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah swt. Jika mereka berhenti [dari kekafiran] maka sesungguhnya Allah swt Maha melihat apa yang mereka kerjakan "


Pendekatan yang dimaksudkan dengan fitnah didalam terjemahaan ayat ini adalah gangguan terhadap umat Islam dan agamanya, dalam erti kata, halangan-halangan yang menghalang gerakan-gerakan untuk menyebarkan agama Islam dengan tujuan berdakwah. Dengan itu halangan inilah yang perlu dihapuskan supaya kesucian Islam itu dapat dipelihara dengan umatnya terjamin bebas dan aman.


Kesimpulannya banyak akan ayat-ayat yang mengizinkan peperangan. Berperang adalah bertujuan untuk melindungi umat Islam dan agamanya dari diprovokasi oleh pihak-pihak yang sama sekali suka bermusuhan dan anti Islam dan umatnya secara menyeluruh.


Nyata sampai kesaat ini, sudah keabad 21[21 century] masih tidak sunyi dengan tomahan dan hasutan dari golongan yang tidak sedar akan perilaku mereka dengan perjuangan yang ditempur untuk agama dan bangsa.


Bersatulah sebagai satu gagasan dakwah Islamiyah untuk memertabatkan dan menegakkan sinar Islam sebagai matlamat yang diredhai Allah swt.


Wallahu'alam.



Ku Temui Cahayanya[TAMAT].

Ku Temui CahayaNya [Tamat].
Share
"Islam tidak pernah memutuskan hubungan antara anak dan ibu bapa seseorang walaupun mereka berlainan agama. Bahkan Islam mengajar seorang Muslim supaya terus menjaga perhubungan kekeluargaan serta menghormati kedua ibu bapanya yang berlainan agama. Mereka perlu patuh kepada arahan, suruhan dan permintaan kedua-duanya selagi mana ianya tidak bercanggah dengan ajaran Islam. Dalam Islam, haram dan berdosa hukumnya seorang anak memutuskan perhubungan dengan kedua orang tuanya."
"Sekiranya saya memeluk Islam, pada pendapat akak apa yang perlu buat atau ada atau apa-apa sahaja untuk saya lebih memahami Islam?" Tanyaku.
"Akak cadangkan supaya Jane berkahwin dengan seseorang yang boleh membantu Jane untuk lebih memahami Islam."
"Perlukah begitu?" Aku rasa seperti masih belum bersedia untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
"Dalam keadaan seperti Jane sekarang ni, akak rasa adalah terlebih baik Jane kahwin selepas peluk Islam nanti."
"Ada ke lelaki Islam yang baik sudi menerima saya sebagai isteri sedangkan saya tidak lagi suci?" Air mataku tergenang ditubir mata bila mengenangkan peristiwa itu.
"Jane jangan risau, pasti ada lelaki yang baik sudi menerima Jane kerana Allah." Yakin Kak Zu.
"Tapi macam mana saya nak kahwin, saya sendiri tidak tahu tentang perkahwinan dalam Islam?" Mana mungkin aku mencari lelaki untuk mengahwiniku seperti perigi mencari timba.
"Serahkan pada akak, biar akak je yang uruskan untuk Jane." Beban fikiranku sedikit hilang dengan janji Kak Zu itu.

Setelah semua persoalan yang menghantui benak fikiranku dirungkai satu persatu dan aku memperolehi jawapannya, tekadku untuk memeluk Islam semakin membara. Kak Zu menghidupkan enjin keretanya dan bertolak untuk menghantarku pulang. Dalam perjalanan Kak Zu singgah sebentar di gerai menjual akhbar dan majalah yang terletak di tepi jalan. Dia membeli dua buah akhbar tempatan. Dia memberikannya kepadaku sementara dia terus memandu.
Aku membelek helaian-helaian akhbar tersebut mencari berita yang menarik. Tiba-tiba mataku terpandang satu tajuk berita di ruangan tempatan "Dua Lelaki Maut Dipanah Petir." Aku meneruskan pembacaan dan sekali lagi ianya membuatkan aku terkejut. Lelaki yang dipanah petir itu adalah seorang sami dan seorang lelaki yang dikenali sebagai Micheal. Aku termenung memikirkan tentang kejadian tersebut. Adakah ianya satu mimpi atau merupakan sebuah realiti? Semasa aku tidak sedarkan diri, memang aku lihat mereka berdua telah dipanah petir sewaktu berlawan dengan Abang Syamsul. Aku fikir ianya hanya sekadar peristiwa yang berlaku dalam kotak fikiran sahaja. Tidak kusangka sama sekali ia merupakan gambaran kejadian yang sebenar.

Terlalu sukar untuk kuluahkan pada mama dan papa mengenai keputusanku yang tekad untuk memeluk Islam. Sebelum ini pun mereka telah menunjukkan sikap konfrantasi mereka terhadapku apabila kunyatakan hasratku itu. Aku pun tidak tahu kenapa mereka terlalu prejudis terhadap Islam. Sedangkan ketika abangku, Calvin memilih Kristian sebagai cara hidup, tiada pun bantahan yang mereka kemukakan. Petang ini aku berkumpul sambil minum petang bersama keluargaku. Calvin pun ada bersama.
"Papa, saya dah tekad untuk peluk Islam." Beritahuku. Papa yang sedang menghirup teh panasnya serta-merta terhenti dan merenung tajam ke arahku. Semua pasang mata merenung tajam ke arahku.
"Apakah kamu dah habis fikir?"Soal papa sambil meletakkan cawan tehnya.
"Ya pa."
"Habis tu macam mana hubungan kita?"Tanya mama pula.
"Mama tak perlu risau. Saya tetap anak mama sampai mati. Islam tak pernah putuskan hubungan antara anak dan kedua ibu bapanya." Aku meminjam kata-kata Kak Zu tempoh hari.
"Tapi kamu tak boleh makan apa yang kami makan." Mama mengemukakan hujah.
"Betul. Ada makanan yang Islam haramkan makan seperti arak, babi dan semua binatang yang tak disembelih. Tapi tak boleh makan makanan tersebut tidak semestinya kita perlu putuskan hubungan kekeluargaan mama." Jawabku.
"Habis tu macam mana kehidupan kamu selepas ini?" Tanya papa pula.
"Selepas peluk Islam, saya akan berkahwin papa." Sekali lagi jawapanku itu membuatkan mereka semua seolah-olah terkejut.
"Kamu nak kahwin dengan siapa?" Soal papa lagi.
"Hanya tuhan yang tahu siapa jodoh saya papa. Setakat ni belum ada lagi." Telah aku serahkan urusan tersebut pada Kak Zu.
"Kalau itulah keputusan kamu, kami tak dapat halang. Tapi kami harap kamu tidak akan buang kami." Jawapan papa itu membuatkan aku tidak dapat membendung perasaanku, lalu tubir mataku digenangi air. Aku bangun memeluk papa dan mama sebagai tanda syukur atas kehendak hatiku itu.

Semua persiapan untuk upacara masuk Islam diuruskan oleh Abang Syamsul dan Kak Zu sendiri. Aku diberitahu bahawa aku akan di Islamkan sendiri oleh Menteri Besar Kelantan, YAB Tuan Guru Dato Haji Nik Abdul Aziz bin Nik Mat di Masjid Pulau Melaka selepas Solat Jumaat. Yang mendebarkan aku juga, menurut Kak Zu selepas di Islamkan oleh Tuan Guru Menteri Besar aku akan dinikahkan dengan seorang lelaki yang tidak kutahu siapakah identitinya. Ia menjadi tanda tanya yang mendebarkan hatiku.

Kak Zu menyewa set baju warna krim buatku. Dialah yang bertungkus lumus menyediakan termasuklah menjadi jurusolek yang tidak bertauliah. Hari ini dua kejadian penting yang akan berlaku dalam hidupku. Aku akan di Islamkan secara rasmi dan seterusnya diijab kabulkan dengan seorang lelaki yang tidak kuketahui siapa. Kedua-dua peristiwa penting tersebut akan disempurnakan oleh YAB Tuan Guru Menteri Besar Kelantan.

Selepas solat Jumaat, rombonganku bertolak dari rumah ke Masjid Pulau Melaka yang letaknya tidak berapa jauh dari rumahku. Kak Zu, mama, papa, Calvin dan isterinya serta beberapa orang kawan Kak Zu. Ramai juga ahli jemaah yang ingin turut serta menyaksikan majlis tersebut. Aku jadi lebih gementar bila semua pasang mata tertumpu ke arahku yang berjalan masuk ke ruang solat masjid tersebut.

Aku dikelilingi para jemaah yang hadir. Ahli keluargaku berada dibelakang, manakala Kak Zu pula berada dikananku. YAB Dato Tuan Guru betul-betul berhadapan denganku.
"Sebelum kita mulakan majlis ini, saya ingin bertanyakan kepada saudari beberapa soalan. Saya ingin mendengar jawapannya dengan penuh jujur dan ikhlas" Tuan Guru merenung kearahku. Para hadirin memerhati dengan penuh tumpuan. Aku hanya sekadar mengangguk.
"Adakah saudari pasti ingin memeluk Islam?" Soal Tuan Guru.
"Saya yakin dan pasti Tok Guru." Jawabku.
"Tiada yang memaksa?" Soalnya lagi.
"Tiada."
"Adakah saudari yakin tiada tuhan yang patut disembah selain Allah."
"Ya, saya yakin."
"Adakah saudari yakin bahawa Nabi Muhammad itu rasul akhir zaman utusan Allah?"
"Ya, saya percaya."
"Jika begitu, ikut apa yang saya ucapkan." Arah Tuan Guru.

Aku menutur perlahan-lahan dan penuh yakin Dua Kalimah Syahadah yang diajar oleh Tuan Guru. Selesai sahaja aku mengucap Dua Kalimah Syahadah, Kak Zu memelukku dengan perasaan terharu. Serentak dengan itu, para jemaah melaungkan takbir bersama linangan air mataku. Aku juga memeluk mama yang kelihatannya terkejut dan terharu. Kemudian Tuan Guru menadahkan tangan membacakan doa. Para jemaah turut mengaminkan doa tersebut. Air mataku semakin laju menuruni tubir mata kerana doa yang Tuan Guru baca itu adalah dalam Bahasa Melayu.

"Sudikah saudari untuk dikahwinkan dengan lelaki ini?" Pertanyaan Tuan Guru itu menyedarkan aku bahawa aku masih punya satu lagi upacara penting.

Aku mengangkat wajahku dan memandang kearah lelaki yang dimaksudkan oleh Tuan Guru itu. Betapa aku amat terkejut melihat lelaki tersebut. Aku terus berpaling kearah Kak Zu yang berada disampingku.
"Sudikah Jane jadi adik buat akak dunia dan akhirat?" Tanya Kak Zu dengan mata yang berkaca-kaca. Aku terkedu dengan pertanyaan itu. Tidak aku sangka sama sekali.
"Akak ikhlas?" Tanyaku kembali secara berbisik.
"Ya kerana Allah." Jawabnya.
"Kalau begitu, saya sudi menjadi adik akak dunia dan akhirat kerana Allah." Balasku. Kami berpelukan antara satu sama lain disaksikan puluhan pasang mata yang turut terharu diatas pengorbanan yang telah dibuat itu.
"Saya sedia menerimanya sebagai suami, peneman dan pelindung saya dunia dan akhirat kerana Allah." Itulah jawapan muktamad kuberikan kepada Tuan Guru.
"Aku nikah dan kahwinkan dikau Syamsul Anuar bin Azman dengan Nurul Hidayah binti Abdullah berwakil walikan daku dengan mas kahwin seribu ringgit tunai." Ijab Tuan Guru.
"Aku terima nikahnya Nurul Hidayah binti Abdullah dengan mas kahwin sebanyak yang tersebut." Lafaz qabul yang diucapkan oleh Abang Syamsul. Semua hadirin menjawab 'sah'.

Sekali lagi Kak Zu memelukku erat. Aku membalas pelukan tersebut dengan penuh hiba. Sudah banyak pengorbanan yang dilakukan dua insan ini padaku. Kini mereka berkorban lagi buatku demi kebahagiaanku serta demi kesejahteraan agamaku. Terlalu sedikit wanita yang dengan ikhlas membenarkan suami mereka berpoligami. Terlalu sedikit isteri yang sudi berkongsi kasih suaminya dengan wanita lain kerana Allah.

Abang Syamsul mendekati kami berdua. Dia menghulurkan tangan, aku menyalaminya dan kemudiannya dia mencium dahiku.
"Terima kasih atas segala pengorbanan abang dan akak. Abang dan akaklah saudara saya dunia dan akhirat." Ujarku sebagai tanda terima kasih. Abang Syamsul memeluk kami berdua.
“Abang telah dianugerahkan dua permata yang tiada tandingan dengan seisi dunia. Semoga Allah merahmati dan memberkati keluarga kita.” Ucap Abang Syamsul.



Ya Allah, telah kutemui cahayaMu, maka kekalkanlah sinarnya dalam hidupku. Telah kutemui jalanMu, maka luruskanlah ia buatku. Ya Allah,rahmatilah keluarga kami. Jadikanlah kami keluarga yang bahagia berkekalan selama-lamanya. Kurniakanlah kami zuriat keturunan yang soleh dan solehah. Masukkanlah kami ke dalam golongan yang mendapat bayangan Mu diakhirat nanti dan janganlah Engkau hinakan kami dihari pertemuan nanti.
Seruling Senja
30 Mac 2008
9.55 pagi
Cameron Highlands

***THE END***
Sahabat,
Dengan selesainya Cerber
Ku Temui CahayaNya yang merupakan kisah nyata ini, selesai pula janji saya untuk mempersembahkan Cerber ini secara lengkap, alhamdulillah. Semoga kiranya sahabat semua merasa terhibur dan senang membacanya, ditengah-tengah kegalauan hati menghadapi berbagai fenomena & problem sosial, ekonomi dan politik di negeri tercinta ini. Semoga cerita ini menjadi ibrah (pelajaran) serta dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kita semua. Satu hal yang mesti di garis-bawahi adalah semoga kita dapat menjalankan keislaman kita secara paripurna (kaffah) mencakup berbagai aspeknya, yakni aqidah, akhlaq, fikh, syariah, mu'amalah dan adab-adab muslim lainnya, sehingga Islam semakin memancarkan sinarnya sebagai agama yang Rahmatan lil alamin. Amin.
Wassalam,
Sahabatmu,

Sudi Al-Fakir.


Ku Temui Cahayanya[Part - 5].

Ku Temui CahayaNya (PART - 5)
Share
"Siapa engkau!" Tanya lelaki sami itu sambil melilau mencari dari manakah datangnya suara tersebut.
"Siapa aku tak penting. Yang penting, lepaskan gadis itu sekarang!" Arah suara tersebut.
"Siapa kau nak memberi arahan?! Kalau aku tak nak lepaskan dia, apa yang kau nak buat?" Tanya lelaki sami itu sambil mengejek.
"Sekiranya kau engkar, akan ku bakar kalian dengan ayat-ayat Allah!" Ketika itu muncul satu cahaya dari balik kabus dan kegelapan alam. Seorang lelaki berjubah dan berserban mempunyai wajah yang bercahaya.

"Abang Syamsul!" Aku hampir menjerit kegembiraan sewaktu melihat kemunculan Abang Syamsul itu. Aku tahu dia adalah utusan yang datang untuk menyelamatkan aku.

"Kenapa kau selalu masuk campur urusan aku hah!" Sergah Micheal yang berada disisi lelaki sami itu.
"Tugasku adalah untuk menghalang kejahatan kau!"
"Jangan fikir kau mampu untuk melawan kami!" Serentak dengan itu lelaki sami itu mengarahkan mahkluk yang berwajah hodoh itu menerkam dan menyerang Abang Syamsul. Aku terdengar Abang Syamsul membacakan sesuatu yang tidak kufahami. Tiba-tiba makhluk yang berwajah hodoh itu seperti terpempan pada dinding lalu terpelanting ke belakang.
"Kamu tak mampu melawan ayat-ayat Allah!" Tegas Abang Syamsul. Dia hanya bersedia dalam keadaan berdiri tegak dengan kedua-dua tangannya memeluk tubuh.

Makhluk berwajah hodoh itu bangun dengan penuh kepayahan dan menerkam kearah Abang Syamsul namun sekali lagi dia seolah-olah terpampan pada dinding lalu terpelanting. Kali ini Abang Syamsul mengambil langkah untuk menyerang pula. Aku dengar dia membacakan sesuatu.
"Aahhggg...!!" Mahkluk berwajah hodoh itu melolong apabila tiba-tiba sahaja api yang entah dari mana datangnya mula membakar dirinya. Lelaki sami dan Micheal terkejut melihat apa yang dialami oleh makhluk tersebut. Mereka ingin cuba membantu tetapi api yang membakar makhluk tersebut begitu marak. Manakala mahkhluk tersebut menggelupur kepanasan terbakar sambil melolong kesakitan dan akhirnya tiada apa yang tinggal dari makhluk kecuali hanya debu.

"Celaka!" Sumpah sami itu lalu melepaskan jurus bola berapi ke arah Abang Syamsul. Abang Syamsul mengelak ke kiri menyebabkan bola api itu tersasar.

Aku lihat Abang Syamsul mengisar-ngisar tumit kaki kanannya ke tanah. Manakala ibu jari kanannya ditekankan ke telapak tangan kiri sambil membacakan sesuatu yang tidak kupasti butirnya. Sami itu cuba mengambil peluang di atas kekhusyukkan Abang Syamsul untuk mengatur serangan kedua. Kali ini sami itu melepaskan dua bola api kearah Abang Syamsul seperti tembakan meriam. Namun dengan sedikit gerakan seperti meliut, sekali lagi kedua-dua bola api itu tersasar daripada mengenai Abang Syamsul.

"Cis!!" Sumpah kedua-dua lelaki itu sambil meludah. Aku lihat Abang Syamsul masih lagi dalam keadaan seperti tadi. Ibu jari kanan menekan tapak tangan kiri manakala tumit kaki kanannya dikisar-kisar pada tanah.
"Aaahhrrgg!!!" Tidak semena-mena sami itu bertempik kuat. Dia terduduk ke tanah sambil tangan kanannya memegang kepala dan tangan kirinya menekan dada seolah-olah sedang menahan kesakitan yang teramat sangat.

"Aku dah cakap, tapi kamu degil. Sekarang rasakan kehebatan ayat-ayat Allah ini." Abang Syamsul terus membacakan sesuatu dalam posisinya seperti tadi menyebabkan sami itu menggelupur sambil menjerit.
"Aku mengaku kalah! Lepaskan aku!" Sami itu merayu dalam kesakitan.
"Aku tak berurusan dengan syaitan." Tegas Abang Syamsul lalu aku lihat mulutnya terkumat-kumit membaca sesuatu. Micheal ketakutan dan cuba mencari perlindungan.
"Kamu seharusnya diberikan pengajaran kerana berurusan dengan syaitan untuk merosakkan manusia!" Dengan tiba-tiba pancaran kilat menyambar sami dan Micheal menyebabkan mereka hangus terbakar sekelip mata.

"Jane tak apa-apa?" Tanya Abang Syamsul sewaktu dia menghampiriku yang terbujur berbungkus atas tanah. Dia membuka ikatan yang mengikat dan membalut tubuhku.
"Saya tak apa-apa." Jelasku yang masih lagi ketakutan sambil menolong Abang Syamsul merungkaikan ikatan pada tubuhku.

Apabila terungkai sahaja kesemua ikatan pada tubuhku, aku terus memeluk Abang Syamsul kerana terlalu gembira dilepaskan dari ketakutan.
"Terima kasih abang." Ucapku ikhlas sewaktu aku memeluk tubuh Abang Syamsul. Dia kelihatan tergamam dan kaku dengan tindakanku itu.
"Jom balik! Semua orang sedang menunggu Jane." Jelas Abang Syamsul ketika dia merungkaikan pelukanku. Aku mengangguk tanda patuh. Dia mengarahkan aku duduk sambil melunjurkan kedua-dua kakiku.
"Pejam mata dan tenangkan fikiran." Arah Abang Syamsul padaku. Dia membacakan sesuatu dan menghembuskan ke ubun-ubunku.
"Sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah." Bisiknya ditelinga kananku.
"Tiada daya mahupun upaya kecuali dengan izin Allah, tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Besar KekuasaanNya." Dibisikkan pula ketelinga kiriku. Itulah kalimah terakhir yang aku dengar sebelum aku tidak sedarkan diri.

"Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tiada daya mahupun upaya kecuali dengan izin Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar kekuasaanNya. Bangunlah Jane! Bukalah matamu." Itulah kata-kata pertama yang aku dengar setelah sedar dari pengsan. Perlahan-lahan aku membuka kedua-dua kelopak mataku.

Aku dapati diriku terbaring diatas katil hospital dan dikerumuni oleh keluarga dan sanak-saudaraku termasuk Abang Syamsul dan Kak Zu.
"Segala puja dan puji buat Allah, tuhan yang mentadbir sekalian alam." Ucap Abang Syamsul setelah melihat aku membuka mata sambil tersenyum kearahku.
"Jane!" Mama terus memelukku sambil menangis terharu. Aku tidak tahu kenapa mama begitu bersedih sekali. Aku hanya sekadar mengalami mimpi buruk sahaja dan kenapa perlunya sampai sanak saudaraku juga turut hadir sama. Kalau pun aku sakit, mungkin hanya sekadar demam biasa sahaja dan bukannya sakit tenat.
"Mama, saya lapar dan dahaga la." Tiba-tiba sahaja tekakku rasa kering dan perutku bergelombang minta diisi.

Apabila waktu melawat telah tamat, sanak-saudaraku mula beransur pulang. Apatah lagi apabila keadaanku semakin sembuh walaupun masih tidak bermaya. Hanya tinggal keluargaku dan Abang Syamsul serta Kak Zu saja. Daripada cerita mama, rupa-rupanya aku telah tidak sedarkan diri hampir seminggu lamanya. Pelbagai cara telah diusahakan termasuklah perubatan moden di hospital. Namun doktor gagal mengesan sebarang penyakit. Malah mengikut pemeriksaan doktor, aku tidak menghadapi sebarang penyakit dan sistem tubuhku adalah normal. Aku telah diletakkan dibawah pengawasan dan pemerhatian pasukan pakar khas di HUSM Kubang Kerian bagi melihat perkembanganku. Dalam ketika itulah, Abang Syamsul menawarkan khidmatnya apabila mengikut pemerhatiannya aku sebenar telah diculik oleh sesuatu di alam bawah sedar. Pada mulanya papa dan mama agak keberatan untuk membenarkan Abang Syamsul meneruskan usahanya. Namun setelah diyakinkan oleh Abang Syamsul bahawa usahanya itu tidak akan merugikan atau memudaratkan sesiapa. Rupa-rupanya sangkaan Abang Syamsul itu betul dan usahanya itu berhasil. Patutlah aku dahaga dan lapar sangat, hampir seminggu aku tidak sedarkan diri.

"Terima kasih abang." Ucapku setelah mama habis menceritakan apa sebenarnya telah berlaku.
"Dah jadi tanggungjawab abang sesama manusia untuk membantu yang dalam kesusahan." Jelas Abang Syamsul.
"Jane rehatlah dulu. Jane pun masih penat dan tak sihat sangat lagi tu." Nasihat Kak Zu.
Ketika itu Abang Syamsul mengelilingi katilku dalam bilik kelas 1 itu beberapa kali sambil membacakan sesuatu. Papa,mama dan abangku Calvin sekadar melihat sahaja.
"Jane rehatlah. InsyaAllah, tak ada apa-apa yang akan ganggu Jane lagi." Ujar Abang Syamsul. Mereka bersalaman sebelum meninggalkan aku ditemani mama. Sebelum berpisah, papa memeluk Abang Syamsul erat.
Aku menghantar mereka berdua dengan pandangan. Dua insan yang telah banyak berbudi padaku. Kini semakin kuat bertugu hasrat hatiku. Apabila kesihatanku mengizinkan nanti, akan kucuba realisasikannya.

Walaupun aku telah sedar, namun pihak HUSM masih lagi tidak membenarkan aku pulang. Mereka kata, masih perlu buat pemerhatian ke atasku untuk tempoh 24 jam lagi. Sekiranya tidak ada apa-apa yang berlaku dalam tempoh tersebut, aku akan dibenarkan keluar. Mengikut Dr. Abd. Rashid, ketua pasukan doktor pakar yang merawatku, apa yang berlaku keatasku merupakan antara kes yang pelik dalam sejarah perubatan HUSM. Jadi mereka perlukan maklumat lanjut bagi rekod hospital serta bagi tujuan kajian mereka nanti.

Buat kesekian kalinya mama menemani aku dalam wad. Dia telah menemani aku di HUSM sejak aku mula-mula dimasuk wad. Tiada apa yang menarik dan menyeronokkan berada dalam wad. Malah kebosanan merupakan peneman utama aku disana. Siaran tv tidak sedikit pun menarik perhatianku. Mungkin oleh kerana terlalu letih dan penat, aku terlena.

Pagi ini aku terjaga awal dari lenaku. Aku bangkit sewaktu azan subuh dilaungkan dari Masjid Sultan Ismail Petra yang jaraknya tidak berapa jauh dari HUSM. Kubiarkan mama terus melayani mimpinya yang tidur atas kerusi malas dalam bilikku itu. Aku berdiri di beranda sambil menghirup udara pagi yang masih segar itu. Dari tingkat 10 ini aku dapat lihat masjid dan kawasan sekitar HUSM. Jalan raya masih belum sibuk dengan kenderaan. Aku mengenakan zip pada baju sejukku bagi mengurangkan rasa sejuk angin pagi yang agak kuat berhembus itu. Aku melontar pandanganku ke arah menara masjid. Suara imam membacakan ayat-ayat terasa seperti menusuk kalbuku. Ia mengingatkan aku pada mimpiku semalam.

Aku didatangi seorang lelaki yang memakai jubah putih dan berkopiah. Wajahnya tidak berapa jelas dalam pandanganku namun ia bercahaya.
"Adakah kamu benar-benar nak masuk Islam?" Soal lelaki tersebut padaku.
" Benar.." Jawabku sedikit gugup.
"Adakah kamu yakin Islam itu benar?" Soalnya lagi.
"Ya."
"Adakah kamu tetap akan memeluk Islam walaupun kamu akan mendapat tentangan?"
"Aku tetap akan peluk Islam." Jawabku tegas.
"Kiranya benar begitu, ku doakan kamu agar menjadi seorang muslimah yang solehah. Semoga Allah merahmati hidupmu selama-lamanya." Selepas dia menghabiskan kata-katanya, lelaki itu terus hilang dari pandangan.

Lamunan mimpiku tamat apabila seorang petugas membawa masuk sarapan pagi buatku. Dia berpesan supaya bersiap kerana doktor akan masuk melawatku lebih kurang pukul 8.30 pagi. Aku kemudiannya mencapai tuala lalu masuk ke bilik air untuk mandi. Aku membiarkan air paip terus mengaliri segenap pelusuk tubuhku biar kesejukan air menghilangkan kepanasan beban yang kutanggung ini.

Selepas pasukan doktor masuk dan membuat pemeriksaan ke atasku, mereka memberikan kebenaran padaku untuk pulang ke rumah setelah berpuas hati mengenai perkembangan kesihatanku. Walaupun begitu, aku perlu datang untuk pemeriksaan secara berkala selepas ini.

Sedang aku membantu mama mengemaskan barang-barang, Kak Zu datang melawatku.
"Macam na keadaan Jane hari ni?" Tanya Kak Zu sambil memelukku.
"Baik kak." Dia merenung kearahku dengan satu renungan yang cukup dalam maknanya.
"Akak tak kerja ke hari ini?" Soalku kerana jam menunjukkan pukul 11.00 pagi.
"Akak ambil cuti separuh hari sebab nak jemput Jane." Jawapan Kak Zu itu membuatkan aku terharu dengan tindakannya itu. Dia sanggup untuk mengambil cuti semata-mata untuk menjemput aku dari hospital.
"Susahkan akak je. Saya boleh balik dengan teksi la."
"Takpela, akak nak raikan Jane."

Kak Zu membantu mama mengangkut barang-barang ke dalam kereta Wiranya. Jarak rumahku dengan HUSM tidaklah jauh sangat. Lebih kurang 20 minit perjalanan sahaja. Dia kelihatannya memandu dengan tenang.
"Akak, selepas hantar mama boleh tak kita keluar kejap?" Aku pinta jasa baik Kak Zu untuk menemani aku.
"Jane nak ke mana dengan Kak Zu?" Soal mama dari tempat duduk dari belakang.
"Jane nak ambil angin kejap ma." Jelasku.
" Takpe untie, saya pun cuti tengahari ni."

Selepas menghantar mama ke rumah dan mengeluarkan semua barang-barang, Kak Zu memandu keretanya ke arah Pantai Cahaya Bulan. Hari ini adalah hari kerja, jadi waktu tengahari begini pantai masih belum ramai pengunjung. Cuaca cerah sekali dan angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Ombak pula hanya sederhana kuat menghempas pantai. Kak Zu memarkir kereta di bawah bayangan pokok kelapa yang berderetan. Dia mematikan enjin dan menurunkan tingkap bagi membolehkan kami merasai kesegaran hembusan bayu laut.

" Saya perlukan nasihat dan pandangan akak." Aku memulakan bicara setelah suasana sunyi seketika.
"Cakaplah, akak akan cuba sedaya mungkin."
"Saya inginkan penjelasan mengenai Islam." Kak Zu menarik nafas dalam sekali mendengar pertanyaanku itu.
"Islam itu maknanya selamat. Sesiapa yang memeluk Islam dan beramal dengan apa yang disuruh serta meninggalkan apa yang dilarang nescaya dia akan selamat dunia dan akhirat. Islam itu mempunyai lima rukun iaitu mengucap dua kalimah syahadah, menunaikan solat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menunaikan haji ke Mekah bagi yang mampu." Jelas Kak Zu.
"Habis tu kenapa ada orang Islam yang membuat kesalahan dan perbuatan dosa?" Aku pernah melihat ada orang Islam yang meminum arak serta berzina sewaktu aku berkunjung ke kelab-kelab malam suatu ketika dulu.
"Kita jangan menilai Islam dengan berpandukan kepada penganutnya. Bahkan asas utama Islam ialah bahawa sesungguhnya kita beriman dan bersaksi tiada tuhan yang patut disembah selain Allah dan kita juga yakin dan percaya bahawa Nabi Muhammad itu rasulnya. Beriman pula mempunyai tiga syarat iaitu bersaksi atau mengakui dengan lidah, yakin dengan sebenar-benarnya dengan hati dan mengamalkan apa yang diyakini itu dengan anggota. Sekiranya mana-mana orang Islam yang tidak memenuhi ketiga-tiga syarat iman ini, maka dia bukanlah seseorang yang benar-benar beriman."
"Iman pula mempunyai enam rukun iaitu beriman kepada Allah, Beriman kepada malaikat, beriman kepada rasul, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada ketentuan baik dan buruk, beriman kepada hari kiamat." Sambung Kak Zu dengan panjang lebar. Dia memandang kearahku dengan seolah-olah menanti soalanku yang seterusnya.
"Kalau saya masuk Islam, macam mana hubungan saya dengan papa dan mama?" Hal inilah yang paling memberatkan kepala aku. Perkara inilah juga yang sering diungkit oleh papa dan mama.



(Bersambung)

Ku Temui Cahayanya[Part - 4].

Ku Temui CahayaNya (PART - 4)
Share
Aku terkejut dan tergemam apabila melihat Micheal dan dua orang konconya tiba-tiba terpelanting ke belakang tanpa sempat menghampiri kami. Abang Syamsul pula kelihatan tenang dengan kedudukan bersedianya dari tadi. Ketiga-tiga lelaki itu terlentang atas lantai tempat parking kereta.

"Jane, cepat masuk kereta! Pandu ke balai polis!" Arah Abang Syamsul sambil mengheret tanganku ke arah kereta. Dengan pantas aku membuka pintu dan masuk ke dalam Satria Neo ku. Aku memandang ke arah Abang Syamsul dengan perasaan cemas.

"Jane jangan risau, abang ikut dari belakang." Dia seperti tahu gelojak perasaanku. Aku lihat dia berlari pantas ke aras pacuan empat rodanya.

Aku terus memecut Satriaku keluar dari kompleks membeli belah di ikuti oleh Abang Syamsul melalui Jalan Hamzah kearah Jalan Ibrahim untuk ke IPD Kota Bharu. Ketika itu jalan agak lengang sedikit. Dalam tergesa-gesa parkir kereta di hadapan Affin Islamic Bank kerana IPD Kota Bharu berada di seberang jalan. Abang Syamsul memarkir jepnya disebelah keretaku. Kami kemudiannya bersama-sama berlari melintas jalan masuk ke IPD Kota Bharu.

"Assalamualaikum encik! Kami nak buat laporan polis." Beritahu Abang Syamsul kepada anggota polis yang bertugas sewaktu kami melangkah masuk ke pejabat pertanyaaan IPD Kota Bharu.
"Sila duduk encik!"
"Laporan polis mengenai apa?" Soal salah seorang anggota polis yang bertugas.
"Mengenai serangan bersenjata." Jawab Abang Syamsul.
"Boleh berikan kad pengenalan." Pinta seorang lagi anggota polis. Aku dan Abang Syamsul menghulurkan kad pengenalan kami.
"Apa butir-butir laporannya?"

Aku menceritakan kepada anggota polis tersebut apa yang telah terjadi,begitu juga Abang Syamsul. Abang Syamsul telah menghubungi Kak Zu untuk memberitahu perkara tersebut. Aku pula telah menelefon papa supaya kedua orang tuaku tidak risau dengan kelewatanku. Selang lebih kurang 15 minit kemudian, Kak Zu melangkah masuk ke pejabat pertanyaan IPD Kota Bharu itu.

"Kak Zu!" Aku bangun menerpa Kak Zu dan memeluknya erat.
"Jane jangan risau." Pujuk Kak Zu untuk menenangkan aku sambil memelukku erat. Gejolak jiwaku sedikit tenang dengan belaian kasih itu.
"Zu tolong temankan Jane kejap. Abang nak solat maghrib dulu." Kak Zu mengangguk tanda akur dengan permintaaan Abang Syamsul itu. Kami mungkin perlu menunggu sedikit masa lagi kerana pegawai penyiasat akan merekodkan keterangan kami berdua di bawah Seksyen 112 Kanun Acara Jenayah. Pegawai Penyiasat akan merekodkan keterangan kami dengan lebih terperinci lagi berbanding dengan laporan polis. Laporan polis yang dibuat hanyalah sekadar laporan awal bagi pihak polis membuka kertas siasatan berkaitan dengan kejadian itu.

Aku sampai dirumah lebih kurang pukul 10.30 malam. Setelah selesai urusan membuat laporan polis tadi, kami singgah makan di Dataran Usahawan yang terletak di perkarangan Stadium Sultan Muhammad IV. Mungkin disebabkan terlalu lama berada di IPD Kota Bharu menyebabkan perut kami minta segera di isi.

Papa dan mama menyambutku ditangga. Setelah parkir kereta, aku berlari keluar dan terus memeluk mama yang berada di tangga rumah. Papa memandang Abang Syamsul dan Kak Zu yang mengekoriku dengan kereta masing-masing penuh curiga. Aku memeluk mama sambil menangis terisak-isak. Mama merangkulku erat walaupun dia masih tertanya-tanya apa sebenarnya yang telah berlaku.

"Kenapa ni?"Tanya mama sambil merangkul tubuhku ke ruang tamu.
"Jane takut ma." Jelasku sambil menangis.
Mama terus memeluk tubuhku erat. Mujur juga Abang Syamsul berkebetulan berada disitu. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi padaku. Mungkin aku akan jadi mangsa kerakusan nafsu Michele buat kali kedua. Atau mungkin juga hanya jasadku sahaja yang tinggal kerana dirobek pisau konco-konco Micheal itu. Aku memejamkan mata rapat-rapat tatkala membayangkan apa yang akan berlaku padaku sekiranya tanpa pertolongan Abang Syamsul.
"Siapa yang punya angkara ni?!" Soal papa bernada dendam sambil memandang kearah Abang Syamsul dan Kak Zu. Aku tahu papa tidak berapa suka pada Abang Syamsul dan Kak Zu kerana sangka papa, mereka berdualah punca aku berhasrat untuk memeluk Islam. Prasangka tersebut telah menutup pandangan dan hati papa mengenai jasa kedua-dua insan mulia itu yang telah menyelamatkan aku semasa aku terlibat dalam kemalangan hampir meragut nyawaku suatu ketika dulu. Dan hari ini, sekali lagi insan mulia itu telah menyelamatkan aku dari kerakusan dan kejahatan Micheal.

"Micheal yang buat onar uncle." Jawab Abang Syamsul.
"Apa pula yang Micheal buat?!" Tanya papa sedikit terkejut. Mungkin dia tidak pernah menyangka bahawa Micheal akan terus berusaha untuk mendapatkan aku kembali.
Setelah naik keatas rumah, Abang Syamsul lalu menceritakan dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah berlaku pada papa dan mama. Sesekali papa dan mama mengeleng-ngeleng kepala mendengar kelakuan jahat Micheal.
"Uncle langsung tak sangka Micheal akan bertindak sejauh itu." Ujar papa.
"Dia mungkin akan terus berusaha selagi Jane berada masih belum dalam genggamannya." Sampuk Abang Syamsul.
"Kami ucapkan terima kasih pada Syamsul kerana telah menyelamatkan Jane dari Micheal. Jasa baik Syamsul itu tidak dapat balas." Aku dengar suara papa ada sedikit getar hujungnya. Pada pendapatku, itulah antara kata-kata papa yang paling ikhlas.

"Saya ucapan jutaan terima kasih diatas budi abang menyelamatkan saya tadi. Kalau abang tak ada, mungkin saya dah jadi korban Micheal buat kali kedua." Ucapku pada Abang Syamsul sewaktu dia mula melangkah turun dari rumahku. Kalau ikutkan hati, ingin aku memeluknya sebagai tanda penghargaan yang tidak terhingga. Namun bila memikirkan ianya tidak sopan mengikut kaca mata Islam, aku batalkan sahaja niatku itu.
"Bersyukurlah Jane. Dah tugas abang antara kita sesama manusia menolong antara satu sama lain yang dalam kesusahan. Mungkin ini hari Jane, esok lusa mungkin giliran abang pulak untuk Jane tolong." Jawabnya.
"Sudahlah Jane, kitakan dah macam keluarga. Masa Jane susah, sudah kewajipan kami menolong." Sampuk Kak Zu sambil memelukku ketika pasangan tersebut hendak pulang. Hanya Tuhan yang tahu betapa bersyukurnya aku dapat mengenali pasangan ini. Mereka tidak pernah terasa berat untuk memberikan pertolongan.

Papa berjabat tangan lantas memeluk Abang Syamsul sebelum lelaki budiman itu masuk kedalam jepnya. Amat jarang papa memeluk seseorang kecuali orang tersebut amat disanjung dan dikasihi dalam hidupnya. Mungkin papa sudah mula nampak kebaikan, ketulusan dan keikhlasan Abang Syamsul itu.
Jam telah menunjukkan pukul 11.00 malam sewaktu Abang Syamsul dan Kak Zu pulang. Aku masuk ke bilik air untuk mandi. Badan rasa macam melekit dan kurang selesa. Terasa sejuk dan nyaman sewaktu air mencurah menyelusuri segenap tubuhku. Aku membiarkan air paip membelai tubuhku buat seketika sehingga tubuhku kembali segar. Setelah selesai mandi dan mengelap tubuh, aku mengenakan gaun tidur satin. Aku rasa kurang enak badan sedikit. Mungkin disebabkan perasaanku masih lagi dikuasai gerun dan takut bila memikirkan kejadian petang tadi.

Pada mulanya aku bercadang hendak meneruskan pembacaan buku yang dihadiahkan Kak Zu. Tapi badanku rasa lain macam, seram sejuk sahaja. Aku berbaring atas katil dan menyelimut tubuhku.Aku tidak tahu pukul berapa aku terlena. Aku hanya tersedar apabila jam loceng berbunyi tepat pukul 7.00 pagi. Walau bagaimanapun terasa berat hendak bangun. Tubuhku terasa panas. Aku membatalkan hasratku untuk bangun.
"Nampaknya kena minta cuti hari ni." Bisik hatiku. Aku sambung kembali tidurku buat seketika.
"Jane!" Tidurku terganggu seketika apabila aku terdengar ketukan pintu dan suara orang memanggil namaku. Aku lihat jam mejaku menunjukkan pukul 10.00 pagi.
"Jane!" Sekali lagi namaku diseru.
"Masukla ma, pintu tak berkunci." Jawabku. Mama membuka pintu bilikku dan melihat kearahku dengan penuh hairan.
"Jane tak pergi kerja ke" Tanya mama.
"Tak ma. Jane rasa tak sedap badan la."
"Panasnya badan Jane!" Mama bersuara dengan sedikit terkejut tatkala dia meletakkan tangan kanannya ke dahiku.
"Jane rehat dulu. Tengahari nanti kita pergi klinik." Sambung mama lagi.

Aku rasa terlalu letih dan penat. Usahkan hendak jawab pertanyaan mama, hendak membuka kelopak mata pun hampir tidak mampu. Tubuhku terasa terlalu lemah dan tidak berdaya. Walaupun mama memberitahu bahawa badanku panas, namun aku rasa terlalu sejuk sehingga ke tulang sum-sum. Sebab itulah aku menyelimuti tubuhku dengan selimut yang tebal. Aku tidak sedar bilakah mama meninggalkan aku sendirian dalam bilikku itu kerana aku terlelap semula.

Sedang aku asyik, tiba-tiba aku terdengar suara orang mengilai dengan kuat sekali. Aku melihat sekeliling, mencari dari manakah datangnya suara tersebut. Namun begitu, suasana kelam dan berkabus telah menghalang pandanganku. Suara tersebut terus kedengaran menguasai suasana.
"Siapa tu?!" Jeritku sedikit ketakutan.
"Haa..Haa..Haa!!" Suara tersebut terus ketawa. Pandanganku gagal mengesan di manakah pemilik suara tersebut.

Dalam ketika itu, aku seperti merasakan seperti hembusan nafas pada telinga kananku. Secara refleks, aku terus berpusing ke belakang.
"Ma!!" Aku menjerit. Namun jeritanku itu seolah tersangkut pada kerongkong sahaja. Betapa terkejutnya apabila aku melihat satu lembaga berwajah hodoh, berkepala botak dan besar berdiri hanya lebih kurang dua kaki dariku. Aku melangkah kebelakang menjauhi lembaga itu. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang busuk itu.

"Haa..Haa..!! Mana lagi mau lari?" Seorang lelaki muncul dari belakang makhluk hodoh itu. Lelaki berkepala botak berpakaian sami itu ketawa tersengih-sengih kearahku.
"Siapa engkau hah!" Jeritku ketakutan. Aku terus cuba melangkah menjauhkan diri dari mereka. Tetapi kedua-dua kakiku seolah-olah terpaku atau terbenam dalam bumi. Puas aku mencuba, namun kakiku tetap tidak dapat berganjak.
"Siapa kami tak penting. Tapi kau akan tahu sejauh mana ego kau dapat bertahan." Jawab lelaki berpakaian sami itu sambil ketawa berdekah-dekah. Ketika itu juga, makhluk hodoh menjelirkan lidah kearahku. Aku cuba mengelak tetapi seluruh tubuhku seperti kaku dan lumpuh.
"Jangan!!"Jeritku apabila lidah itu menjilat seluruh mukaku dan diikuti seluruh tubuhku. Oleh kerana terlalu takut, aku pengsan serta-merta.

"Jane! Jane!" Satu suara memanggil namaku. Aku terjaga dari pengsanku. Aku tercari-cari suara tersebut tetapi suasana sekeliling yang gelap menghalang pandanganku untuk melihat. Aku terkejut dan ketakutan apabila mendapati diriku dibungkus seperti orang mati. Cuma mukaku sahaja lagi yang belum ditutup.
"Lepaskan aku!" Jeritku.
"Kami akan tanam engkau hidup-hidup!" Laung lelaki berpakaian sami itu sambil ketawa mengejek kearahku. Makhluk berwajah hodoh yang berada disamping lelaki itu menjelirkan lidahnya ke arahku bersama lelehan air liur busuk yang memualkan.
"Engkau sombong dengan aku ek!" Tiba-tiba keluar seorang lagi lelaki antara kedua-dua itu. Suara itu macam pernah aku dengar. Dalam kesamaran itu aku lihat Micheal tersenyum mengejek kearahku.
"Micheal!" Bisikku.
"Engkau tak akan dapat lari sayang." Ejek Micheal.
"Lepaskan aku Micheal." Aku merayu.
"Sekarang takde siapa yang boleh tolong kau!" Gelak ketiga-ketiga mahkluk itu.
Pada ketika itu, mahkluk yang berwajah hodoh itu menghampiriku. Dia mendepangkan tangannya yang berkuku panjang dan tajam itu untuk mencekik leherku.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Aku terus menjerit memohon simpati mereka. Aku tidak tahu hendak minta tolong pada siapa kerana suara aku seolah-olah tersekat ditenggorok sahaja.
Lelaki sami dan Micheal hanya mentertawakan aku melihat aku ketakutan begitu. Mahkluk hodoh itu terus mencekik leherku. Kukunya yang tajam dan panjang itu seperti tertusuk masuk kedalam leherku.
"Tolong!!!" Jeritku kelemasan. Mereka terus mentertawakan aku.
"Lepaskan dia!" Satu suara bergema memenuhi ruang angkasa. Lelaki sami, Micheal dan mahkluk berwajah hodoh itu kelihatan terkejut.

(Bersambung)

Ku Temui Cahayanya[Part.3].

Ku Temui CahayaNya (PART - 3)
Share
Aku terjaga dari lena apabila jam mejaku berdering pukul 7.00 pagi. Aku tidak pasti bila aku terlena semalam. Namun, buku yang aku baca semalam berada atas meja disudut tepi katilku. Aku diselimut kemas bagi mengelak kesejukan.
"Pasti mama." Selalunya mama yang akan menjengok bilikku sebelum dia masuk tidur. Dialah yang akan menutup lampu bilikku serta menyelimutkan aku apabila aku terlena.

Aku bangun bersiap-siap untuk pergi kerja. Hari ini aku ada appointment dengan wakil Syarikat Syabab Corporation, sebuah syarikat pengimport kenderaan yang semakin meningkat maju di negeri ini. Aku mengenakan singlet putih dibaluti dengan kot kelabu dan dipadankan dengan seluar panjang kelabu sebagai satu suit. Dengan sedikit makeup yang nipis, aku menggayakan penampilanku di hadapan cermin solek dalam bilikku. Rasa lebih yakin dan berketerampilan untuk bertemu dengan client hari ini.

Selepas lunch, aku masuk ofis dengan perasaan yang penuh kegembiraan. Pertemuan dengan wakil Syabab Corperation tadi nampaknya mempunyai peluang yang agak cerah. Pada dasarnya, mereka telah bersetuju untuk mendapatkan khidmat syarikatku bagi mengendalikan pengimportan kereta syarikat mereka. Aku harap, urusan tersebut akan ada kesinambungan sehingga termeterainya perjanjian antara kedua-dua syarikat. Aku masuk pejabatku untuk menyiapkan laporan mengenai pertemuanku tadi. Aku perlu menyerahkan laporan tersebut kepada pengarah syarikat untuk diteliti dan tindakan lanjutnya.

Sedang aku asyik menyiapkan repot, telefon dalam bilikku berdering minta dijawab.
"Miss Jane, ada orang nak cakap ditalian satu." Beritahu operator.
"Siapa?" Soalku.
"Dia hanya memperkenalkan diri sebagai kawan baik Miss Jane je." Jawab operator yang ramah itu.
"Ok. Sambungkan saya." Arahku.
"Hello!" Sapaku.
"Hello!" Ulangiku apabila desus nafas sahaja yang kedengaran dihujung talian.
"Hello!" Aku mula naik geram kerana seolah-olah pemanggil tersebut cuba hendak mempermain-mainkan aku.
"Hello! Takkan dah nak marah sayang." Akhirnya suara kedengaran. Aku cuba mengamati suara tersebut sepertinya aku pernah mengenali pemilik suara tersebut.
"Siapa ni?" Tanyaku inginkan kepastian walaupun telah terlintas satu nama dalam benak fikiranku.
"Hai, takkan you dah tak kenal kekasih lama you!" Jawab suara tersebut.
"Micheal!" Bisik hatiku. Memang tepat sangkaanku bahawa itu adalah suara Micheal.
"Apa lagi yang engkau nak daripada aku hah?!" Aku mula hilang sabar. Nampaknya si Micheal ni tidak faham bahasa. Dia tidak putus asa, malah terus cuba untuk meraih kembali cintaku setelah apa yang dia lakukan padaku.
"Janganlah cepat marah sayang. You tak rindu kat I ke? I rindula kemesraan you dulu." Micheal terus bermain dengan kata-kata.
"Persetankan dengan rindu engkau tu!" Jeritku lalu menghempas telefon tu.
Hatiku jadi panas tiba-tiba. Penghawa dingin bilikku gagal menyejukkan kehangatan hatiku pada Micheal. Dia selalu sahaja mengganggu ketenangan hidupku. Memang aku tahu perangai Micheal. Putus asa tidak pernah wujud dalam kamus hidupnya. Dia akan terus berusaha walau dengan apa cara sekalipun demi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Handsetku berbunyi menandakan aku menerima sistem pesanan ringkas atau sms.
"Jgn ingat kau blh lari dari aku Jane!" Mesej ringkas yang berbau ugutan itu telah dihantar oleh Micheal. Terbit rasa gerun dan takut dalam hatiku kerana aku tahu sejauh mana kemampuan Micheal itu.Kerisauanku ini ada asasnya kerana aku pernah melalui masa kemesraan bersama Micheal suatu ketika dulu.

Selepas tamat waktu kerja, aku tidak terus pulang ke rumah. Sebaliknya aku memandu kereta Satria Neo hitamku kearah pasaraya Tesco, sebuah pasaraya yang terbesar di Kelantan. Letaknya di atas perlembahan Sungai Kelantan di sebelah Kampung Sireh. Ia merupakan antara mercu tanda kemajuan Kelantan yang terbaru. Aku bercadang untuk membeli beberapa pakaian baru. Kak Zu menasihatiku supaya memakai pakaian yang lebih sopan dan tidak seksi. Mengikut kata Kak Zu, memakai pakaian seksi bukan sahaja nampak kurang sopan tetapi ia juga boleh menarik perhatian orang-orang yang suka mengambil kesempatan dan berniat jahat seperti perogol dan pencabul kehormatan. Dengan berpakaian sopan, sekurang-kurangnya kita telah menutup satu pintu bahaya ke atas kita. Walaupun agak sukar untuk aku mengubah penampilanku kerana sudah terbiasa begitu sejak sekian lama, namun aku tetap akan cuba sedaya mampuku.

Aku membelek-membelek blaus dan skirt labuh di bahagian ladies. Aku memilih dua helai blaus yang bertali serta boleh diikat di belakang. Satu bewarna hitam berbunga putih dan satu lagi warna pink kosong. Aku juga mengambil dua helai skirt labuh sampai buku lali. Satu berwarna kuning air dan satu lagi warna hitam. Aku juga mengambil sehelai knit top atau singlet untuk dipakai semasa berada di rumah.Aku menuju ke kaunter bayaran. Ketika itu pengunjung tidak berapa ramai kerana sudah hampir waktu maghrib. Hanya dua tiga orang sahaja yang sedang beratur di setiap lorong kaunter bayaran yang berjumlah 15 kaunter itu. Aku tidak perlu untuk beratur lama untuk membayar pakaian yang kuambil itu.

Sewaktu aku melangkah keluar dari pasaraya Tesco itu, senja telah pun berlabuh. Warna kemerahan di ufuk langit menghiasi keindahan alam. Hari mula gelap dan pengunjung juga telah berkurangan. Aku menghampiri keretaku di tempat letak kereta di bahagian bawah pusat membeli belah itu. Sedang aku cuba memasukkan kunci pada pintu kereta, tiba-tiba aku dipeluk dari belakang. Barang-barang yang kubeli serta kunci kereta tercampak atas lantai.
"Apa ni? Lepaskan aku!" Jeritku sambil meronta.
"Mana kau nak lari ah!" Jerkah Micheal sambil ketawa. Dua konconya memegangku.
"Apa yang kau nak lagi?!"
"Aku nak semua yang ada pada kau!" Jerkah Micheal sambil mencengkam leherku. Aku meronta-ronta kelemasan. Namun semakin kuat aku meronta, semakin kuat genggaman kedua-dua konco Micheal itu. Micheal bersama dua orang konconya itu ketawa melihat aku tidak mampu melawan.

Namun dengan tiba-tiba satu tendangan singgah ke dada Micheal menyebabkan dia melayah ke belakang. Kemudian kedua-dua konconya yang memegangku tercampak ke tepi. Aku terpinga-pinga sebab kelibat siapa tidak dapat ku lihat kerana kepantasan dan ketangkasannya.
"Abang Syamsul!" Bisik hatiku apabila dia berdiri di sebelah ku.
"Jangan cuba mengambil kesempatan keatas kaum yang lemah." Abang Syamsul memberikan amaran. Aku mendekatinya dan berlindung dibelakangnya.
"Jangan campur urusan kami, kalau kau tak nak menyesal." Balas Micheal tanpa memperdulikan amaran Abang Syamsul.
Aku memegang lengan Abang Syamsul dan merapatkan badanku pada belakangnya kerana aku ketakutan sewaktu melihat kedua-dua orang suruhan Micheal mengeluarkan pisau dari saku seluar mereka.
"Jane jangan takut, InsyaAllah kita selamat." Ujar Abang Syamsul seolah-olah mengetahui isi hatiku.

Salah seorang daripada mereka menerkam ke arah abang Syamsul dengan pisau terhunus. Secara pantas abang Syamsul melarikan tubuhnya ke kanan sambil menepis tangan konco Micheal itu dengan tangan kirinya. Kemudiannya abang Syamsul susuli sepakan padu ke dada lelaki itu menyebabkan dia terundur ke belakang dan jatuh tersungkur. Abang Syamsul hanya berdiri tegap dalam keadaan siap siaga menanti sebarang kemungkinan serangan. Melihat salah seorang daripada mereka tertiarap, seorang lagi masuk sambil melibas pisau ditangannya ke kiri dan ke kanan. Aku yang berlindung dibelakang abang Syamsul rasa seram sejuk dan gerun. Tidak dapat kubayangkan sekiranya pisau itu merobek perut kami, pastinya akan terburai segala isi perut kami dibuatnya. Abang Syamsul mengelak ke kiri sambil menangkap tangan kanan penyerang itu lalu memulasnya kebelakang. Kemudian dia menyepak kaki kanan penyerang itu menyebabkan lelaki itu jatuh terlentang dan disusuli dengan sepakan kemuka lelaki tersebut. Aku lihat ada darah yang tersembur keluar dari mulut dan hidung lelaki itu.

Micheal kelihatan tergamam apabila kedua-dua konconya itu tidak dapat mengatasi ketangkasan abang Syamsul.Walaupun begitu, dia cuba untuk mengawal emosinya agar tidak menunjukkan perasaannya kepada kami. Dalam ketika itu, kedua-dua konconya bangun dengan kepayahan sambil mengesat darah yang mengalir dari mulut dan hidung mereka dengan lengan.
"Cis!" Sumpah salah seorang daripada mereka sambil meludah air liur yang bercampur dengan warna kemerahan.

"Yeah!!" Secara tiba-tiba, Micheal dan dua orang konconya itu melancarkan serangan secara serentak ke arah kami. Aku yang terkejut terus berlindung dibelakang Abang Syamsul. Aku terdengar Abang Syamsul seperti membacakan sesuatu. (Bersambung)